Jl. Ketintang Baru Selatan I No.1, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
(031) 820-10000
rsmmjatim
RSMM Prop.Jatim
Fitur Suara:
Status: Nonaktif

DUKUNG TMMD KE- 130 TAHUN 2026 DI JOMBANG, RSMM JAWA TIMUR GELAR EDUKASI KESEHATAN MATA, SKRINING, PEMERIKSAAN DAN PEMBERIAN KACAMATA GRATIS
Ditulis Oleh Bahana Rizka W, S.KM & Nabila Laili R F - Oktober 2026

Jombang – Wujudkan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat hingga pelosok desa, Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Jawa Timur turut mendukung pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Tahun 2026 melalui kegiatan edukasi kesehatan mata, skrining gangguan penglihatan, pemeriksaan serta pemberian kacamata baca gratis bagi masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, bekerja sama dengan Kodim 0814/Jombang dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pemerintah Kabupaten Jombang pada 28 Oktober 2026.

Tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur desa, kegiatan TMMD juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui akses pelayanan kesehatan yang lebih dekat, mudah dijangkau, dan bermanfaat secara langsung. Kehadiran RSMM Jawa Timur dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan mata sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan penglihatan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan skrining digital melalui aplikasi SI PELIPIS (Sistem Pemeriksaan Lingkup Penglihatan Praktis) pada laman bit.ly/sipelipis-rsmm.Melalui layanan ini, masyarakat diperkenalkan dengan cara sederhana untuk melakukan pemeriksaan awal penglihatan secara mandiri. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi penglihatannya dan tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan.

Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi kesehatan mata yang disampaikan oleh dr. Prahara Wahyu Purnomo dari RSMM Jawa Timur. Dalam sesi ini, peserta memperoleh informasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata, mengenali tanda-tanda gangguan penglihatan, serta anjuran untuk melakukan pemeriksaan mata secara berkala. Suasana kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab, sehingga masyarakat dapat menyampaikan keluhan sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mata.

dr. Prahara menyampaikan bahwa “Seiring bertambahnya usia, lensa mata menjadi kurang lentur sehingga sulit memfokuskan objek dekat. Selain itu, lansia berisiko mengalami katarak, glaukoma, gangguan retina, dan mata kering. Penurunan penglihatan tidak boleh selalu dianggap sebagai proses penuaan yang normal karena dapat disebabkan oleh penyakit yang membutuhkan penanganan medis.”

Dipaparkan juga menganai kelainan Mata yang Sering Dialami Lansia yaitu :

  • Presbiopi (rabun dekat karena usia): Umumnya mulai dirasakan pada usia 40–45 tahun. Gejalanya meliputi kesulitan membaca tulisan kecil, harus menjauhkan buku atau HP, mata cepat lelah, dan terkadang sakit kepala. Kondisi ini dapat dibantu dengan kacamata baca yang sesuai.
  • Katarak: Ditandai dengan penglihatan buram seperti berkabut, silau, kesulitan melihat pada malam hari, dan warna tampak kusam. Katarak dapat ditangani melalui operasi apabila sudah mengganggu aktivitas.
  • Glaukoma: Kerusakan saraf mata yang dapat berkembang perlahan tanpa gejala awal. Gangguan ini dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang dan kerusakan yang telah terjadi umumnya tidak dapat dipulihkan.
  • Gangguan retina: Retinopati diabetik dapat terjadi pada penderita diabetes meskipun belum ada keluhan penglihatan. Degenerasi makula terkait usia dapat menyebabkan penglihatan bagian tengah buram, berbayang, atau garis lurus terlihat bengkok.
  • Keluhan mata lainnya: Mata kering, rabun jauh, rabun dekat, silinder, serta gangguan pada kelopak dan permukaan mata juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan penurunan penglihatan.

Pesan yang disampaikan pada masyarakat agar segera mencari pertolongan medis apabila mengalami penglihatan tiba-tiba menurun atau hilang, nyeri mata hebat, pandangan kabur disertai mual dan muntah,, muncul banyak bintik melayang secara mendadak, atau penglihatan seperti tertutup tirai serta penglihatan ganda mendadak atau gangguan penglihatan setelah cedera mata. Gejala tersebut memerlukan pemeriksaan segera di IGD atau layanan mata darurat. Jangan menunggu jadwal kontrol poli atau mencoba mengobati sendiri.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dalam pelaksanaan pemeriksaan mata menggunakan alat auto refrakto keratometer (ARK) oleh tenaga refraksionis RSMM Jawa Timur. Pemeriksaan ini menjadi salah satu langkah awal untuk mengetahui kondisi refraksi mata dan mengidentifikasi kebutuhan koreksi penglihatan, termasuk penggunaan kacamata. Dari hasil pemeriksaan 63 peserta, 35 peserta memerlukan kacamata, 5 peserta direkomendasikan untuk pemeriksaan lanjutan, sementara 23 peserta lainnya dalam kondisi normal. RSMM Jawa Timur juga membagikan kacamata baca kepada 35 peserta yang membutuhkan.

Kegiatan ini secara khusus menjadi bagian dari upaya deteksi dini gangguan penglihatan, terutama menyasar masyarakat berusia 40 tahun ke atas. Pada kelompok usia ini, perubahan kemampuan melihat dekat, seperti kesulitan membaca tulisan kecil, dapat mulai dirasakan. Namun, gangguan penglihatan tidak selalu sekadar berkaitan dengan bertambahnya usia dan dapat pula menjadi tanda kondisi mata yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Melalui edukasi ini, masyarakat juga diingatkan agar tidak menganggap penurunan penglihatan sebagai hal yang wajar dan harus diterima begitu saja. Pemeriksaan mata secara berkala penting dilakukan untuk mengetahui penyebab keluhan, menentukan kebutuhan koreksi penglihatan, serta membantu mendeteksi gangguan mata yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Penggunaan kacamata yang sesuai juga dapat membantu menunjang aktivitas sehari-hari, mulai dari membaca, bekerja, hingga menjalankan kegiatan sosial dengan lebih nyaman.

RSMM Jawa Timur berharap semakin banyak masyarakat yang mendapatkan akses terhadap informasi kesehatan mata, pemeriksaan dini, dan bantuan koreksi penglihatan sesuai kebutuhan. Upaya ini sekaligus menjadi langkah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mata sebagai bagian penting dari kualitas hidup. Penglihatan yang baik bukan hanya membantu seseorang melihat dengan jelas, tetapi juga membuka kesempatan untuk menjalani aktivitas, berkarya, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat secara lebih optimal.